Gerakan warga mudah padam jika berjalan sendiri-sendiri; di Sabu Raijua, kebutuhan terbesarnya adalah ruang untuk saling melihat, mendengar, dan merencanakan masa depan bersama.
Pada 19 Agustus 2025, Yayasan TANABAE menjadi moderator untuk kegiatan Temu Aktor Warga Aktif, Masyarakat Sipil, dan Community Organizer Program GEF7 wilayah Sabu Raijua. Kegiatan ini sebagai bagian dari layanan konsultansi Yayasan Tanabae atas kerja sama dengan Proyek PMPB (Perkumpulan Masyarakat Peduli Bencana) – GEF7
Temu Aktor Warga Aktif, Masyarakat Sipil, dan Community Organizer Program GEF7 pada 19 Agustus 2025 dirancang sebagai titik temu: menjawab mengapa jejaring sipil di pulau kecil ini perlu bergerak sebagai ekosistem, bukan sebagai pulau-pulau kecil yang terpisah. Dari perspektif program PMPB–GEF7, keberlanjutan tidak hanya bergantung pada dokumen dan output fisik, tetapi pada seberapa kuat aktor lokal saling terhubung untuk menjaga dan memperluas capaian program.
Dalam satu hari pertemuan, para penggerak OMS lokal, perwakilan komunitas, pemuda, dan mitra program memetakan peta kekuatan sekaligus luka bersama. Diskusi mengungkap minimnya ruang kolaborasi, tantangan regenerasi aktivis, dan kebutuhan besar akan penguatan kapasitas organisasi—mulai dari tata kelola, manajemen keuangan, hingga kemampuan mengakses pendanaan. Melalui metode partisipatif, pertemuan ini melahirkan rekomendasi konkret: membangun ruang diskusi rutin (dari “ngopi bareng” sampai podcast komunitas), memperkuat kapasitas internal OMS, dan mendorong kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah serta lembaga adat.
Temu Aktor berakhir dengan kesepakatan: Sabu Raijua membutuhkan lebih dari satu proyek; ia butuh generasi penggerak yang siap “maraton” dalam gerakan sosial-ekologis, hal ini penting karena organsasi masyarakat sipil di Sabu Raijualah yang yang akan mengambil tongkat estafet ketika Proyek GEF memasuki fase berikutnya.*** (DW)